Rabu, 11 April 2012

Arti Sebuah Nama



           

               Pujangga Inggris,William Shakespeare berkata, apa arti sebuah nama yang lebih penting adalah isi. Perkataan pengarang antara lain drama klasik Romeo dan Juliet itu ada benarnya. Sebagus, sepopular, dan sebesar apapun nama seseorang  kalau ”isi”-nya tidak baik, tak bermakna, dan tak bermanfaat tentu tidak akan ada artinya. Jadi, isi memang lebih berharga ketimbang nama. Dari isi, baik berupa karya, kerja maupun amalan lain  seseorang  yang berkualitas tentunya akan berdampak pada pengenalan terhadap orang itu. Dalam ranah tertentu seperti tulis-menulis, tidak jarang orang lebih mengenal dan akrab dengan karya atau tulisan seseorang ketimbang penulisnya.
               Di ranah leterasi seperti puisi dan penulisan kreatif ada yang menarik untuk dicermati. Penyair peraih South East Asia  (SEA) Write Award, Acep Zamzam Noor dalam blognya, menyebutkan puisi yang baik adalah yang menggetarkan pembacanya. Tak peduli apakah itu puisi cinta atu protes, puisi panjang atu pendek. Ketergetaran itu tentunya relatif. Ia bisa tergetar oleh nama penyair yang puitis atau aneh. Dia pun menganggap penting sebuah nama. Karena itu, Acep Zamzam Noor kerap mengusulkan nama (calon) penyair yang biasa-biasa saja supaya diganti saja. Sedangkan dalam jagat perbukuan, tak jarang pula penerbit yang menyarankan menggunakan nama pena kepada penulis yang naskahnya akan diterbitkan.
              Dalam budaya kita,  pemberian nama kepada anak yang baru lahir oleh orangtuanya, memiliki makna tersendiri. Orangtua biasanya memberikan nama kepada bayinya dengan nama sebagus mungkin. Dari nama itulah orangtua berharap anak mereka dalam amal perbuatannya kelak sesuai dengan nama yang dimilikinya. Tidak sedikit orangtua menamai anaknya dengan nama tokoh-tokoh yang ada di dunia ini. Dalam tradisi Sunda kita mengenal ada kebiasaan ngabubur bodas bubur beureum (membuat bubur putih dan merah) saat pemberian nama kepada bayi. Makanan ini dibagi-bagikannya kepada tetangga dan sanak famili semacam pemberitahuan bahwa bayi itu telah bernama.
               Nama merupakan identitas agar sebentuk makhluk (hidup maupun benda mati) dapat dikenal, diketahui, dan diidentifikasi. Ada orang yang mati-matian menjaga nama baiknya (reputasi) agar dia tetap bisa menjaga hubungan profesional dalam bidangnya. Ada pula nama orang besar yang sekejap terasosiasi tidak baik karena perilakunya yang menyimpang, melanggar hukum, dan etika atau norma-norma tertentu. Tidak sedikit pula dalam profesi-profesi tertentu yang berhubungan dengan publik,  ketenaran menjadi impian orang yang berkecimpung di dalamnya. Kalau popularitas itu diperoleh dengan cara yang baik dan benar, apalagi dia bisa menjaga reputasinya secara konsisten,  tentunya publik pun akan meresponsnya dengan baik pula. Jika sebaliknya, nama yang terkenal didapatkan dengan segala cara atau keterkenalan hanya karena setelah dia membuat sensasi tertentu maupun karena perilakunya yang tidak baik, tentunya khalayak pun akan mencibirkannya.
               Popularitas yang berkelindan dengan nama sekarang ini sudah menjadi tren tersendiri dalam tata budaya massa kita. Mulai untuk menjadi selebritas sampai bakal calon dalam pemilukada, kepopuleran menjadi komoditas yang menjanjikan. Dari sini nampaknya pernyataan Shakespeare itu menjadi ambigu. Nama telah mengalahkan isi. Yang penting nama dikenal dahulu, tak peduli tentang rekam jejak, kiprah, dan pengalaman untuk menduduki posisi itu. Padahal seperti kata seorang penyair Arab, tidak semua orang terkenal besar, dan tidak semua orang besar terkenal. Ambisi seseorang untuk popular sebatas tidak menimbulkan arogansi, pamer, narsis, dan membangga-banggakan diri tentunya sah-sah saja.
             Di lain pihak, bagi orang tertentu popularitas ternyata bisa menjadi sesuatu yang menakutkan dan tidak sesuai dengan kepribadiaannya. Nama yang terkenal berkonsekuensi dengan ‘ketidakbebasan”, interaksi sosial, dan tuntutan mekanisme kerja tertentu (protokoler) yang berbeda dengan orang biasa. Contohnya, penulis tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata mengungkapkan bahwa setelah dia menulis novel itu hingga difilmkan, dirinya menjadi terkenal. Namun, popularitas dengan segala konsekuensinya ini, tidak sesuai dengan karakternya. Akhirnya, Andrea mengumumkan kepada publik untuk pamit dari jagat kepenulisan.Tapi, ini tidak lama sebab Andrea belum lama ini muncul kembali dengan novel-novel terbarunya, dwilogi Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas. Andrea malahan tadinya menginginkan dirinya seperti sastrawan Ahmad Tohari dimana publik lebih kenal dan dekat dengan karya-karyanya ketimbang penulisnya.
               Dalam dunia tulis-menulis ada fenomena menarik menyangkut nama. Tak jarang orang (pembaca) hanya mengetahui nama penulis seperti yang tertera dalam bukunya atau nama popularnya, padahal penulis itu menggunakan nama pena (samaran). Misalnya, orang akan lebih mengenal nama tokoh gerakan puisi Mbeling, Remy Sylado  ketimbang nama aslinya, Yapi Panda Abdiel Tambayong, begitu pula novelis Pipiet Senja sesungguhnya bernama asli Etty Hadiwati Arief, dan novelis Nurhayati Srihandini yang lebih populer dengan nama Nh Dini. Begitu pula di Barat orang lebih mengenal George Orwell sebagai pengarang novel Animal Farm, ketimbang nama aslinya, Eric Arthur Blair.                              
             Pada era multimedia kini dengan internet sebagai sarana utamanya, kita menjumpai dalam fasilitasnya seperti blog, dan Facebook para penggunanya banyak yang memakai nama samara (akun anonym). Tentunya mereka menyamarkan identitas asli bukan untuk tujuan tak baik, sebatas menjaga ruang privat bahkan mungkin hanya iseng. Apalagi internet adalah dunia maya yang berbeda dengan interaksi sosial secara tradisional . Blogger dan Facebooker mengetahui itu, sehingga untuk urusan-urusan yang lebih serius mungkin mereka lebih suka berkomunikasi dan berinteraksi secara lain yang lebih cocok. Bagaimanapun, kultur komunikasi baru ini, baik yang main-main ataupun yang serius, baik yang memakai nama samaran maupun nama asli, tentu mengasyikkan  dan banyak manfaatnya.
            Sayangnya, tentang nama itu, orang yang bermotivasi buruk banyak yang memanfaatkannya untuk tujuan-tujuan berbau kriminal. Sehingga kita mengenal istilah pencatutan nama yang berbau fitnah untuk kepentingan negatif baik menjatuhkan nama baik seseorang atau pun institusi. Tidak sedikit nama pejabat, institusi, dan perusahaan yang dicatut oleh orang tak bertanggung jawab untuk kepentingan yang biasanya ujung-ujungnya penipuan seperti pengumuman pemenang undian tertentu dan permintaan uang “jasa” pelicin untuk menyelesaikan suatu kasus. Dari kasus-kasus seperti ini tentunya kita perlu hati-hati dan bagi yang tercatut namanya  seyogianya mengklarifikasinya.
                  Seperti dunia ini yang fana,  khususnya bagi nama orang dan institusi, dalam keadaan dan periode tertentu ternyata tidak bersifat langgeng. Untuk urusan penggantian nama seseorang (karena alasan tertentu) sebelum dibuatkan akta kelahirannya tidak memerlukan proses administratif. Penggantian nama itu sah-sah saja termasuk untuk lembaga baik pemerintah maupun swasta. Biasanya untuk lembaga swasta seperti perusahaan penggantian nama terjadi kalau ada pengalihan kepemilikan modal, persoalan internal, dan untuk mengembangkan atau meningkatkan kinerja perusahaan. Sedangkan untuk institusi pemerintah perubahan nama adalah karena penggantian lembaga dengan yang baru meskipun sejenis, menghilangkan kesan kurang baik masa lalu,  perubahan struktural institusi,  dan untuk meningkatkan profesionalitas aparaturnya (Ari Hidayat)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar