Entri yang Diunggulkan

Di Sebuah Ranah Saya menamainya   ranah   atau wilayah dalam arti seluas-luasnya di mana kebenaran dipersoalkan. Kebenaran dari yan...

Selasa, 24 November 2015



Di Sebuah Ranah

Saya menamainya  ranah  atau wilayah dalam arti seluas-luasnya di mana kebenaran dipersoalkan. Kebenaran dari yang mempersoalkan adalah kebenaran dengan konsekuensi hukum karena merasa dirugikan secara material. Katakanlah demikian.
Ada peraturan perundangan yang menyatakan perbuatan tertuntut melanggar aturan. Tapi, bahasa hukumnya sendiri seperti  ambigu. Boleh untuk kepentingan pribadi tapi tidak buat kepentingan komersial.   

Di manakah tempat terjadinya pelanggaran itu? Di perangkat pribadi yang dekat dan akrab dengan kita? Atau ranah lain yang komersial dan seperti “ruang publik” sekaligus privat? Apa pelanggaran itu bermula dari ketidaktahuan atau sudah paham sebelumnya berikut konsekuensi hukumnya?  Andai berawal dari ketidak pahaman lantas bagaimana? Selanjutnya kalau sudah tahu dan tidak merugikan penuntut dan disebut melanggar caranya bagaimana? Khususnya, sebut saja saya. Tapi, kan tidak saya saja, tapi juga ratusan ribu bahkan jutaan orang lain?

Lima tahun terakhir saya kerap dikerkah pertanyaan-pertanyaan itu.  Tapi, maaf saya belum dapat jawaban yang pas bagi diri sendiri yang saya anggap paling fair. Saya orang Indonesia, meski keindonesiaan saya masih segini. Sebagai warga negeri ini saya juga ingin patuh aturan dan hukum,  termasuk menghormati norma,  budaya kita. 

Untuk itu saya melihat ada yang tidak bisa ditolerir sebab itu tidak sesuai dengan kaidah dan budaya kita, tapi ada yang masih ambigu, rumit alias tidak sesederhana yang kita pikirkan dan inginkan  seperti yang saya tuliskan di atas baik dari sisi teknis maupun nonteknisnya. Pun karena begitu banyak yang berkepentingan di ranah ini.

Sekian dan terima kasihan

Ditulis saya sendiri sebagai Penjaga, sekaligus Operator, dan kalau boleh dicantumkan juga Pengelola sebuah Warnet. (Maaf untuk rangkap tugas kerja ini, sebab warnetnya juga warnet kecil hanya 5 komputer klien)

Minggu, 08 November 2015

Menyatakan Pendapat
Berpendapat secara lisan maupun tulisan dijamin oleh konstitusi kita dan peraturan perundangan yang ada. Bahkan lebih jauh itu merupakan hak dasar (asasi) yang dilindungi oleh Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia. Menyatakan pendapat secara lisan dan tulisan adalah lumrah dalam keseharian kita. Tentu saja, dari berpendapat yang sekadar di lingkungan kecil dengan media langsung (ngobrol-ngobrol), diskusi, dan yang lebih serius dari itu semacam dalam forum-forum resmi. Khusus berpendapat secara tulisan kini tak hanya media konvensional yang dapat dijadikan  sarana untuk berdiskursus (berwacana), melainkan pula media baru yakni media sosial.
Saya teringat akan seorang penulis artikel di sebuah surat kabar yang mengajukan pertanyaan yang dijawabnya sendiri. Untuk apa sebenarnya kita sebagai warga negara biasa sampai turut berpendapat terhadap sebuah peristiwa yang terjadi bahkan terhadap kebijakan-kebijakan eksekutif, pernyataan beserta keputusan legislatif dan institusi yudikatif kita, lebih jauh bahkan terhadap peristiwa global segala? Penulis ini menjawab apa salahnya sebagai warga yang turut membayar pajak, terkadang berurusan dengan lembaga pemerintahan semisal kelurahan dan kecamatan, juga urusan-urusan administratif dengan lembaga lainnya, Artinya, sebagai warga bangsa kita tidak terlepas dari semua itu.
Hingga, apa kelirunya pula bila berpendapat (sekali lagi hanya berpendapat).
Adakah seseorang yang berpendapat tanpa disertai argumen atau data jikalau diperlukan? Adakah yang berpendapat dengan kontennya dusta, atau fitnah? Saya tidak mau menjawab tentang ini, sebab nantinya akan berujung seperti sebuah "penghakiman". Namun, singkat kata tentunya sebagai warga yang turut berhak dan bertanggung jawab pula terhadap negeri ini, kita tidak akan dan tidak akan pernah seperti itu. Semoga.

Sabtu, 15 November 2014

Gambar

                                  "Sunrise" dari salah satu sudut kotaku 

Ada semacam pendapat di kita, kerap foto atau gambar lebih berbicara ketimbang kata-kata. Untuk ini saya mau menjawab antara ya dan tidak. Kenapa jawaban saya seperti ini? Ya, sebab untuk orang-orang tertentu mungkin saja dengan hanya melihat, menatap, dan mengamati sejenak sebuah foto atau gambar maka ia dapat mengapresiasi selanjutnya menangkap makna, peristiswa, kejadian atau apa yang tersaji dalam gambar itu. Jawaban saya yang lain yakni tidak, pasalnya tidak semua orang dapat seperti itu, hingga sebuah foto bahkan untuk foto jurnalistik sekalipun memerlukan teks foto/caption/ atau keterangan gambar. 

Teks foto itu ditulis dengan rangkaian kata-kata yang menjelaskan secara singkat, padat, dan jelas apa yang ada dalam gambar itu. Jadi, tetap kata-kata diperlukan sebagai pelengkap dari sebuah gambar. 

Dari dulu semenjak saya bertugas sebagai wartawan  meski saya bukan wartawan foto hanya seorang wartawan tulis, saya punya minat terhadap fotografi (terakhir mengundurkan diri sebagai wartawan sekitar tahun 2001 selanjutnya saya memutuskan sebagai penulis lepas). Minat yang tidak terlalu saya kembangkan dengan serius. 

Desember 2010 orangtua dan adik saya, memodali saya membuka jasnet kecil-kecilan. Acapkali saya pun jadi operatornya. Sempat saya membuka jasa cetak foto di jasnet atau warnet ini. Jadi kembali saya bertemu dengan dunia fotografi yang harus saya pelajari lagi dan pelajari lagi. Namun, setahun belakangan ini cetak foto saya hentikan selanjutnya,di jasnet ini dapat print saja.

Buat sekadar hobi saya jeprat-jepret, saya mengandalkan HP Android China keluaran 2009/2010 merk Nexian (baru ini yang saya punya, hehehe). Dengan kamera dalam ponsel itu saya melengkapi buat gambar-gambar dalam aktivitas saya menulis, bermedia sosial, dan ngeblog.

Minggu, 23 Februari 2014

Awan

Pada hari-hari tertentu tanpa sengaja mata memandang ke awan. Di atas sana awan muncul dengan indah suatu siang dan senja hari.. Tangan iseng mengambil telepon selular dan memotretnya.