Sabtu, 15 November 2014

Gambar

                                  "Sunrise" dari salah satu sudut kotaku 

Ada semacam pendapat di kita, kerap foto atau gambar lebih berbicara ketimbang kata-kata. Untuk ini saya mau menjawab antara ya dan tidak. Kenapa jawaban saya seperti ini? Ya, sebab untuk orang-orang tertentu mungkin saja dengan hanya melihat, menatap, dan mengamati sejenak sebuah foto atau gambar maka ia dapat mengapresiasi selanjutnya menangkap makna, peristiswa, kejadian atau apa yang tersaji dalam gambar itu. Jawaban saya yang lain yakni tidak, pasalnya tidak semua orang dapat seperti itu, hingga sebuah foto bahkan untuk foto jurnalistik sekalipun memerlukan teks foto/capture/ atau keterangan gambar. 

Teks foto itu ditulis dengan rangkaian kata-kata yang menjelaskan secara singkat, padat, dan jelas apa yang ada dalam gambar itu. Jadi, tetap kata-kata diperlukan sebagai pelengkap dari sebuah gambar. 

Dari dulu semenjak saya bertugas sebagai wartawan  meski saya bukan wartawan foto hanya seorang wartawan tulis, saya punya minat terhadap fotografi (terakhir mengundurkan diri sebagai wartawan sekitar tahun 2001 selanjutnya saya memutuskan sebagai penulis lepas). Minat yang tidak terlalu saya kembangkan dengan serius. 

Desember 2009 orangtua dan adik saya, memodali saya membuka jasnet kecil-kecilan. Acapkali saya pun jadi operatornya. Sempat saya membuka jasa cetak foto di jasnet atau warnet ini. Jadi kembali saya bertemu dengan dunia fotografi yang harus saya pelajari lagi dan pelajari lagi. Namun, setahun belakangan ini cetak foto saya hentikan selanjutnya,di jasnet ini dapat print saja.

Buat sekadar hobi saya jeprat-jepret, saya mengandalkan HP Android China keluaran 2009/2010 merk Nexian (baru ini yang saya punya, hehehe). Dengan kamera dalam ponsel itu saya melengkapi buat gambar-gambar dalam aktivitas saya menulis, bermedia sosial, dan ngeblog.

Minggu, 23 Februari 2014

Awan

Pada hari-hari tertentu tanpa sengaja mata memandang ke awan. Di atas sana awan muncul dengan indah suatu siang dan senja hari.. Tangan iseng mengambil telepon selular dan memotretnya.


 

Rabu, 22 Januari 2014

Dari Pengajian


Ada kisah-kisah menarik, terutama bagi saya, saat mendengarkan apa yang disampaikan ustaz ketika bertausyiah dan acara itu sempat saya hadiri beberapa tahun lalu . Tentunya di masjid yang letaknya tak jauh dari rumah saya. Meskipun sayangnya saya lupa nama-nama  ustaz itu (mohon maaf untuk ini).  Yang jelas, kisah-kisah yang disampaikan beliau hingga kini masih  membekas dalam ingatan saya
Kisah pertama tentang kecerdasan  sekaligus kecerdikan salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, Sayidina Ali bin Abi Thalib ra. Diriwayatkan saat Nabi hendak menikahkan putri  beliau, Sayyidah Fatimah, Rasulullah SAW menginginkan putrinya  menikah dengan salah seorang dari sahabat yang empat ( Abubakar Assyiddiq ra, Umar bin Khatab ra, Utsman bin Affan ra dan Ali bin Abi Thalib ra). Baginda Rasul menyampaikan niatnya  ke sahabat yang empat . Tentunya harus salah seorang dari mereka yang akan menikahi putri beliau. Hingga Nabi pun menyampaikan kepada keempat sahabat itu untuk membaca  Alquran higga khatam (tamat). Siapa yang paiing cepat tamatnya membaca kitab suci,  dia yang berhak menikahi Fatimah.
Singkatnya  berlangsunglah pembacaan Alquran itu. Nabi mengawasi dengan menengok ke masjid tempat pembacaan  Alquran itu diadakan. Beliau melihat keempat sahabatnya masih membaca kitab suci. Kali kedua Muhammad SAW kembali menengok, Rasulullah terkejut, tinggal Abu Bakar, Umar,dan  Utsman yang masih membaca Alquran, “Ke mana Ali?’ tanya Muhammad dalam hati. Nabi berusaha mencarinya  dan bertemu dengan Ali di sebuah tempat. Kepada  Ali,  Nabi menanyakan alasan dia  meninggalkan acara itu. Sayidina Ali ra menjawab singkat,” Baginda Rasul, saya sudah khatam,” katanya
Rasulullah heran bagaimana mungkin sedang sahabat yang lain masih membaca (tentunya Nabi tahu baru sampai surat ke berapa di antara ketiga sahabatnya ketika membaca Alquran)
“Bagaimana mungkin Ali?” tanya Rasulullah lebih lanjut.
Ali menjawab, “ Memang saya tidak membaca semuanya. Saya hanya membaca surat Al-Ikhlas tiga kali. Bukankah  Baginda Rasul pernah berkata itu sama pahalanya dengan khatam membaca Alquran, “ jelasnya.
Muhammad pun tersenyum dan kisahnya, menurut ustaz itu,  Ali-lah sebagai  “pemenangnya” hingga akhirnya menikah dengan Fatimah ra.
Riwayat kedua dikisahkan oleh ustaz lain, tentang keluarga Lukman (dalam Alquran ada salah satu surat bernama Surat Lukman), Kata ustaz itu, suatu ketika Lukman bersama anaknya menempuh perjalanan  dengan onta. Lukman bertanya pada anaknya siapa yang akan duduk di depan mengendalikan onta dan siapa yang di belakangnya. Anaknya sigap menjawab dia saja dan bapaknya biar di belakang saja.
Di perjalanan mereka mendepar ucapan-ucapan orang,  “Wah bapaknya kelewatan, menyusahkan anaknya,  sampai ontanya pun harus dikendalikan sama anaknya.”
Setelah bermusyawarah dengan anaknya,  kendali onta pun diganti  (Lukman yang di depan dan anaknya di belakang)
Perjalanan pun dilanjutkan,  mereka mendengar lagi ucapan orang-orang, “Kini anaknya yang tak tahu diri,  merepotkan bapaknya  sampai ontanya dikendalikan  bapaknya.”
Lukman bermusyawarah lagi dengan anaknya hingga sepakat mereka berdua menuntun onta dan mereka  berjalan kaki. Bapak dan anak itu pun melanjutkan perjalanan. Masih didengar ucapan sejumlah orang.  “Wah sekarang anak dan bapaknya sama bodohnya onta saja sampai dituntun tidak dikendarai.”
Kata ustaz yang berceramah di Masjid Baetul Falah, Gunungsari, Kota Tasikmalaya itu, “Begitulah anakku kalau kita mendengar ucapan orang," katanya. Lukman hanya mengatakan itu kepada anaknya sesampainya di tujuan perjalanan. * **

Jumat, 08 November 2013


Nyanyian untuk Dia yang Jauh di Sana
Membaca satu-satunya foto kecilmu,
kembali hujan mungil berjatuhan di
hatiku

Mata berkejaran dalam kepayahan
menulisi pelangi jiwa pada lesat waktu
di latar hati yang berujung nganga jurang

Kuurai spektrum pelangi jiwa
jadi lagu rindu tabu,  lantas membeku
dalam dinding keterasingan kini
dan kemudian hari
                                                                     2011