Entri yang Diunggulkan

Di Sebuah Ranah

Saya menamainya   ranah   atau wilayah dalam arti seluas-luasnya di mana kebenaran dipersoalkan. Kebenaran dari yang mempersoalkan adalah k...

Kamis, 10 Januari 2013

Asal-Usul Kata dan Istilah


“Anda"

Kata ganti orang kedua tunggal ini sebenarnya nama orang. Kata ini pertama kali diperkenalkan oleh Kapten (AURI) Sobirin di harian Pedoman  tahun 1950-an. Kata ini digunakan sebagai padanan kata you dalam bahasa Inggris atau “U” dalam bahasa Belanda. Kata “kamu” tidak dapat digunakan dalam ragam resmi, sopan, seperti kata “you” atau “u” yang memang bentuk sopan. Ternyata kata “Anda” diambil dari nama penyanyi yang dikagumi Kapten Sobirin.


"Volt”,  “Ohm”, dan “Braile”
 
Kata-kata ini diambil berdasarkan ilmuwan yang menggelutinya.  Alessandro Volta (1745-1827) dari Italia untuk satuan tegangan listrik, volt dan GS Ohm (1789-1854) dari Jerman. Nama braile diambil dari pencipta huruf buat penyandang tunanetra  yaitu seorang guru Prancis, L Braille (1809-1852)

“Puasa” dan “Lebaran”

Selama ini mungkin kita bertanya2, dari manakah asal-usul kata “Puasa” dan “Lebaran” karena kedua kata ini ternyata tidak dikenal di bahasa Arab. Nah, menurut M.A. Salmun dalam artikelnya yang dimuat dalam majalah “Sunda” tahun 1954, kedua istilah tersebut ternyata berasal dari tradisi Hindu.
Menurut M.A. Salmun, “Puasa” berasal dari kata “Upawasa” yang berarti “menutup”, dengan kata lain menutup/menahan hawa nafsu. Oleh sebab itulah, padanan dari kata “Puasa” adalah “Buka”.
Begitu pula kata “Lebaran” berasal dari tradisi Hindu yang berarti “Selesai, Usai, atau Habis”. Menandakan habisnya masa “Puasa”.
Istilah-istilah ini mungkin diperkenalkan para wali agar umat Hindu yang baru masuk Islam saat itu tidak merasa asing dengan agama yang baru dianutnya. Selain itu, tradisi munggahan dan nyekar yang berasal dari Hindu juga masih dipraktikan hingga sekarang. 

"OK"

Kita mungkin sering mengucapkan kata "OK" atau "Okey". Tapi tahukah kawan darimana kata ini sebenarnya berasal? Kenapa kemudian kata itu memiliki makna menyetujui atau kata setuju akan ide lawan bicara.
Ada berbagai upaya untuk menjelaskan munculnya ungkapan ini, yang tampaknya telah menjadi penggunaan kata yang populer di AS mulai pertengahan abad ke-19 ini. Kebanyakan dari sejarahnya merupakan spekulasi. Hal yang belum dapat dibuktikan dengan bukti-bukti linguistik dan sejarah, ada spekulasi bahwa kata "OK" berasal dari ekspresi orang Skotlandia "och aye", atau ungkapan "ola kala" dari Yunani (yang berartu "baik"), atau kata dari Choctaw Indian "oke" atau "okeh" (yang berarti 'begitu') , atau kata Prancis "aux Cayes" ('Cayes', dari ungkapan sebuah pelabuhan di Haiti) atau "au quai" (asal dari kata 'to the quay', seperti yang diduga digunakan oleh orang Perancis), atau inisial dari agen angkutan kereta api yang bernama Obediah Kelly yang dikatakan telah menulis inisial "OK" pada dokumen-dokumen yang telah diperiksanya.

Namun ternyata, Penjelasan yang lebih mungkin adalah bahwa istilah "OK" berasal dari singkatan ORL korrekt, sebuah kesalahan ejaan (yang disengaja sebagai sebuah joke) dari makna 'semua benar' yang digunakan di Amerika Serikat pada tahun 1830-an. Referensi tertulis tertua dari penggunaannya yaitu digunakan sebagai slogan oleh partai Demokrat selama pemilihan Presiden Amerika 1840. Kandidat Presiden Martin Van Buren dijuluki 'Old Kinderhook' (nama tempat kelahirannya di New York), dan para pendukungnya saat itu membentuk sebuah club bernama 'OK Club'. Kemudian hal ini sangat membantu untuk mempopulerkan istilah "OK" meskipun akhirnya Van Buren tidak terpilih.

Teori yang lain yang juga diterima dan masuk akal adalah bahwa istilah "OK" berasal dari kalangan budak hitam asal Afrika Barat, kata tersebut bermakna 'baik-baik saja', atau 'ya' atau 'memang' yang terkandung dalam beragam bahasa Afrika Barat. Sayangnya, bukti-bukti sejarah asal dari ungkapan ini menjadi berakhir dan mungkin akan sulit untuk digali kembali.

Begitulah sepenggal teori yang ada tentang asal usul kata "OK", cuman masalahnya sekarang, dari mana simbol "OK" (diatas) itu berasal yah.. bingung lagi?


"Boikot" 

Kata ini berasal dari nama seorang tuan tanah Irlandia di County Mayo. Nama lengkapnya adalah Charles Cunningham Boycott (1832-1897). Ia diboikot pertama kali pada 1880. Ia dikucilkan dari masyarakat dan perdagangan, sehingga tidak ada orang yang bersedia menjual barang kepadanya atau membeli barang darinya. Juga tidak ada yang mau bekerja kepadanya (Van Dale, 1992: 439)


“Sadisme”
         
Donatien Alphonse François, Marquis de Sade (2 Juni 17402 Desember 1814) adalah bangsawan, penulis filsafat dan sering pornografi dengan kekerasan. Tulisan filsafatnya beraliran kebebasan ekstrem, tak terikat dengan etika, agama, atau hukum, dengan prinsip utama pengejaran kepuasan personal. Sade ditahan di beberapa penjara dan rumah sakit jiwa selama 29 tahun hidupnya, walaupun ia tidak pernah secara teknis didakwa melakukan kejahatan apapun. Sebagian besar karyanya dibuat sewaktu masa penahanan ini. Istilah "sadisme" diturunkan dari namanya.

 “Onani”

Onani terambil dari nama seorang tokoh dalam Alkitab yakni Onan. Kisahnya bias dibaca di Kitab Kejadian 38:9

Referensi: 

Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
http://achaqori.blogspot.com/2012/12/asal-mula-kata-ok.html
http://aleut.wordpress.com/2012/07/24/asal-usul-kata-puasa-dan-lebaran/
Majalah Intisari No. 475, Februari 2003

Sabtu, 22 Desember 2012

Peranan Media Massa Mengenalkan Kata-kata Baru



      Pada pertengahan tahun 90-an, di Pressroom Depdagri, Jakarta wartawan Jawa Pos Sururi Alfaruq (kini Pemimpin Redaksi Koran Sindo) berkata kepada sejumlah rekannya bahwa dia mencoba menuliskan istilah sinyalir dengan tengarai. Saya tidak tahu persis apakah ia mendapatkan kata baru itu dengan membuka kamus sinomin, atau dengan cara lain. Yang jelas, setelah itu, saya pun ikut-ikutan menuliskan sinyalir dengan istilah baru itu. Jadi untuk menuliskan mensinyalir dengan menengarai. Dan nampaknya ada pula media tatkala itu kemudian yang mengungkapkan kata baru itu dalam pemberitaan-pemberitaannya.
    Bila memerhatikan media baik konvensional maupun  media berbasis internet  ada peran  saluran komunikasi itu untuk mengenalkan istilah baru bahasa Indonesia. Media menjadi alat efektif untuk mengenalkan kata-kata seperti itu. Selalu saja ada kata baru baik berupa sinonim  maupun upaya mengindonesiakan kata-kata dari bahasa asing. Begitu pula dalam dunia teknologi informasi kita pun mengenal istilah unduh (download), unggah (upload), daring (online), ataupun yang lainnya kalau masih ada yang belum saya sebutkan.
     Tidak jarang saya menemukan istilah-istilah baru itu ketika saya membaca media. Setelah itu saya pun berusaha menerka maknanya dan membuka kamus atau mesin pencari seperti Google di internet untuk memastikannya. Misalnya kata-kata baru seperti mangkrak (molor waktu penyelesaiannya). Untuk lebih jelasnya saya buat contoh dalam kalimat saja: proyek itu mangkrak menjadi 4 tahun. Juga kata moncer (lagi tren), meneroka (meneropong).
     Ada aturan dalam  jurnalistik meski tidak baku untuk kata-kata baru atau serapan dari bahasa asing yang belum popular, wartawan hendaknya memberikan tanda kurung untuk memberikan padanan katanya yang sudah dikenal atau menjelaskan maksud dari kata, istilah (jargon) itu. Tak perlu berulang-ulang cukup satu kali.  Namun ada kesulitan teknis saat kata baru itu ditempatkan untuk judul berita. Sebagai contoh, Meneroka (meneropong) Politik Indonesia 2012. Judul berita seperti ini tidak lazim, tapi media biasanya langsung menuliskan, Meneroka Politik Indonesia 2012. Mungkin dalam tubuh berita bisa saja dituliskan padanan kata dari meneroka yakni meneropong bila diperlukan.
Tidak semua media seragam dalam  aturan itu ada yang menaatinya tapi ada pula yang tidak. Untuk yang terakhir ini boleh jadi pembaca dianggap sudah mengetahui setidaknya kalau pun belum “dipaksa” untuk mencari tahu maknanya. ***

Minggu, 16 Desember 2012

Tulisan Berkesan Menggurui?



      Sejumlah  buku tentang bagaimana menulis suka mengatakan dan seakan dijadikan rambu oleh penulis yakni, menghindari nuansa tulisan kita yang menggurui. Teringat akan itu saya sempat membuka tulisan-tulisan  (esai) saya baik yang sudah dimuat di media cetak maupun online untuk memerhatikan apakah tulisan saya itu ada yang seperti itu? Tapi yang menggelitik hati saya bukan sepenuhnya tentang tulisan yang sempat saya buat itu, namun pengertian tentang bagaimana kita menghindari agar pembaca tidak seperti digurui?
      Lebih jauh dalam benak saya muncul pertanyaan apa dan yang bagaimana agar tulisan kita tidak bernada menggurui? Menulis bagi saya adalah media berbagi. Ada sesuatu yang hendak saya ungkapkan, sampaikan lewat tulisan yang saya buat. Meski tak ada niatan untuk menggurui, kembali pikiran saya diterjang pertanyaan sebetulnya adakah tulisan seperti itu? Adakah tulisan yang tak berkesan menggurui? Bukankah  kita-katakanlah saat hendak menulis esai- juga sejatinya  menyisipkan argumentasi, opini, penjelasan-penjelasan kita? Dan tulisan ini, meski mungkin tak bermaksud mengajarkan sesuatu pada akhirnya bisa dinilai menggurui?
      Agar lebih jelas saya mengambil contoh saat  hendak menulis dengan judul  Agar Tulisan Enak Dibaca atau  Tips Supaya Tulisan Kita Dimuat Media, saya akan menjelaskan tentang tema-tema itu secara lengkap seolah sedang mengajarkannya.  Tentunya, sangat sulit untuk menghindari  nuansa menggurui dalam topik seperti itu. Tak hanya itu mungkin tulisan-tulisan tema lainnya.  Pertanyaan lain yang juga mengusik pikiran saya (pengalaman pribadi) bukankah saya pun kerap belajar atau memetik pelajaran  dari tulisan-tulisan yang saya baca? Tak pernah saya menilai apakah tulisan yang saya baca itu bernada menggurui atau tidak, kalau menarik  saya baca. Selepas itu, tak jarang saya seperti mengambil pelajaran darinya. Secara tidak langsung dalam proses seperti itu seakan ada pembelajaran. Saya sebagai pembaca bertindak sebagai muridnya dan gurunya adalah penulis. 
    Jadi, apakah masih tepat kalimat seperti itu yang seolah sudah jadi standar aturan tertentu dalam menulis  menghindari nuansa menggurui?

Sabtu, 08 Desember 2012

Jalan Seorang Penulis




      Sepertinya  jalan yang ditempuh seorang penulis di alam konvergensi  (multimedia) kini menjadi beragam. Kalau dulu sebelum ada internet ada sejumlah penulis  baik fiksi maupun nonfiksi yang  dikenal karya-karya dengan langsung menerbitkan buku-bukunya. Ada penulis yang memilih menjadi wartawan agar dia bisa  juga belajar menulis buku (menjadi penulis buku) atau kebetulan setelah tidak lagi menjadi  jurnalis dia jadi penulis. Ataupun  penulis lepas yang mengirimkan karyanya ke sejumlah media cetak kemudian membukukan tulisan-tulisan yang telah dipublikasikan. Tapi kini ternyata berawal  status-status di media sosial dan blog seseorang bisa menjadi penulis.
      Artinya ada kumpulan status di media sosial juga tulisan di blog yang diterbitkan menjadi buku. Kalau saya tidak keliru mengamati, buku  kumpulan  cerita humor yang ditulis Pemimpin Redaksi SKH Kabar Priangan,  Zair Mahessa, Ketawa Ala Sueb berawal dari status di Facebook lantas muncul blog Ketawa Ala Sueb selanjutnya  tulisan itu dibukukan. Sedangkan  penulis buku Kambing Jantan, Raditya Dika bukunya  itu dari cerita-cerita  di blognya.
         Begitu pula blogger Wijaya Kusumah bermula dari blognya menerbitkan buku Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi dan kabarnya menjadi buku laris di Penerbit Index. Arief Muhammad dengan Twitternya @poconggg yang hingga 6/1 sukses meraih pengikut sebanyak 2.194.459 akun kemudian membuat blog www.poconggg.com (Merdeka.com, 6/1). Selanjutnya mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Trisakti itu pun membuat buku Poconggg Juga Pocong dan menjadi best seller. Bahkan bukunya diangkat ke layar lebar oleh rumah produksi Maxima Picture.
      Hingga, yang layak dicermati, dengan segala “keleluasaan” dalam pengertian siapa pun bisa menulis status  Facebook (FB), membuat cacatan di media sosial ini,  berkicau di Twitter, ngeblog  dan tidak kelirunya bagi yang berminat menjadi penulis menjadikan aktivitas di dunia maya untuk mewujudkan mimpinya  menjadi seorang penulis. Tidak ada salahnya pula meniru jalan yang sudah dilakukan para penulis yang mengawali aktivitas menulisnya di jagat maya.
    

Jumat, 07 Desember 2012

Siluet Pertemuan Maya




 
Siluet Pertemuan (1)
kau yang selalu mengerlingku di ruang maya
bergelas-gelas kata-katamu kuteguk
sambil menatap foto-fotomu,  aku pun mabuk
dalam kerinduan

Siluet Pertemuan (2)                                                              
tak bisa kuredam rindu ini padamu
ia menyelinap pada hari-hariku
menerobos kamar ingatanku
juga mampir dalam mimpi-mimpiku

Siluet Pertemuan (3)
menumpahlah rindu dalam percakapan maya kita
di  ruang obrolan itu
akankah kubiarkan rindu serupa sketsa saja?
ataukah kutuntaskan menjadi lukisan kemudian? 

                                                                   2012

Kolaborasi dalam Menulis Novel


     Nampaknya menulis fiksi seperti novel yang ditulis oleh lebih dari seorang penulis masih tergolong langka dan baru. Kita sudah terbiasa membaca buku kumpulan puisi atau cerpen yang isinya terdiri atas sekumpulan karya-karya dari sejumlah penyair dan cerpenis. Tapi, ini sebuah novel yang biasanya cerita fiksi itu ditulis oleh seorang penulis, namun dikerjakan oleh lebih dari seorang penulis.
      Sebagai contoh setahun lalu (2011) terbit novel seperti itu yang berjudul Sengatan Sang Kumbang. Novel ini diterbitkan Teras Budaya  Jakarta. Ada 11 penulis yang terlibat dalam penulisan novel ini. Mereka adalah: Dewi Yanthi Razalie (sebagai penggagas, yang merangkap koordinator dan editor), Ariana Pegg, Ari Kinoysan Wulandari, Raya Henri Batubara, Fanny J. Poyk, Dianing Widya Yudhistira, Eva Budiastuti, Ris Prasetyo, Bamby Cahyadi, Hany Iskadarwati, dan Tiara Widjanarko.
      Satrio Arismunandar dalam blognya NetSains mengatakan masing-masing menulis satu bab, kecuali Dewi Yanthi Razalie yang menulis dua bab, yakni bab pertama dan bab terakhir. Dalam menulis, setiap pengarang diberi keleluasaan untuk berkreasi sesukanya di bab yang menjadi tanggung jawabnya. Meski, tentu saja mereka harus saling berkoordinasi, agar terdapat kesinambungan dalam nama dan karakter tokoh-tokohnya.
     Kata Satrio yang menarik, ketika membaca novel ini, kita tidak merasa bahwa novel ini ditulis oleh 11 pengarang, karena alur ceritanya sangat mulus mengalir. Relatif tidak terasa adanya ganjalan atau perbedaan dalam gaya penulisan maupun teknik bercerita, dari bab satu ke bab yang lain. Sehingga, seolah-olah seluruh bagian dalam novel ini ditulis oleh satu pengarang yang sama.