Entri yang Diunggulkan

Di Sebuah Ranah

Saya menamainya   ranah   atau wilayah dalam arti seluas-luasnya di mana kebenaran dipersoalkan. Kebenaran dari yang mempersoalkan adalah k...

Selasa, 15 Mei 2012

Cerpen


Setelah Kepergian Itu
Oleh: Ari Hidayat

              Irna terkejut ditelepon kepolisian yang memberitahukan adiknya yang lelaki, Bani mengalami kecelakaan lalu-lintas. Mobil yang dikendarai Bani bertabrakan dengan truk. Mendengar kabar itu rinai air mata pun meleleh di pipinya, tubuhnya gemetar dan mendadak lemas. Dadanya sesak menahan sedih. Meski begitu,  ia sempat menelepon saudara-saudaranya. Tak berapa lama Irna bersama suaminya, Adi menuju rumah sakit (RS) tempat adiknya mendapat pertolongan.
             Di kotanya akhir-akhir ini hujan sering turun memanjang di tubuh kemarau. Sepertinya peristiwa alam tidak bisa diramalkan lagi. Cuaca membawa anomalinya tersendiri. Hari itu pun hujan mengguyur deras. Dari kaca mobil yang disetiri suaminya itu, Irna melihat jari-jari hujan menetes kencang di luar kendaraannya dan menyentuh-nyentuh badan luar mobil.  Di kendaraan itu mereka berdua membisu. Sempat ia sekali berkata pada suaminya, berharap adiknya dapat terselamatkan. Adi, suami Irna hanya menggangguk pelan.
             Setiba di rumah sakit, Irna memburu meja resepsionist. Ada jawaban adiknya  memang dirawat di RS itu dan sekarang ada di ICU. Irna dan Adi  diminta menunggu sebentar di ruang tunggu. Sesaat kemudian dokter menghampirinya, mengabarkan kondisi Bani. Buat menolong jiwanya dokter akan mengoperasi Bani. Kata dokter ada pendarahan di otaknya yang harus segera ditangani. Dokter meminta Irna selaku keluarga korban menandatangani persetujuan operasi itu. Ia menoleh ke suaminya. Adi menggangguk. Dan Irna membubuhkan tanda tangannya di berkas itu. Setelah itu,  hati Irma sibuk dalam doa-doanya. Tangan Adi menggenggam tangan istrinya buat menentramkan. Mereka duduk berdampingan di ruang tunggu tak jauh dari ICU.
            Sesekali dalam benak Irna dan Adi melintas bayangan-bayangan kenangan bersama Bani. Irna berpikir bagaimana ia harus mengatakan keadaan Adi kepada Zahra dan Naufal,  anak-anaknya Bani mengingat mereka masih kecil. Mungkin Zahra yang sudah duduk di kelas empat SD bisa memahami, tapi bagaimana dengan adiknya yakni Naufal yang masih berusia empat tahun itu? Irna jadi ingat peristiwa dua tahun lalu saat Bani memutuskan bercerai dengan istrinya. Dan setelah itu, mantan istrinya pergi ke sebuah kota di luar Pulau Jawa. Karena suatu alasan tertentu dari istrinya itu dan dikukuhkan hakim pengadilan agama, meski kedua anak mereka masih di bawah umur, akhirnya diputuskan diasuh oleh Bani.
              Setelah orangtuanya bercerai Zahra dan Naufal hidup bersama Bani dan seorang janda tua sebagai pembantu merangkap babysitter di rumah Bani yang  masih satu kota dengan Irna. Haruskah Irna berusaha jujur mengatakan bapaknya Zahra dan Naufal kecelakaan? Tidakkah untuk sementara mengatakan alasan yang lain saja. Sepertinya kurang elok kalau anak-anak itu diberitahu kejadian yang sesungguhnya,  toh di rumah mereka masih ada pembantu. Selain itu,   Irna pun akan meminta familinya yang bersedia untuk sementara menemani keponakan-keponakannya itu.
              “Bani, oh Bani. Semoga Allah menyelamatkanmu,” batin Irna.
              Dokter sudah selesai mengoperasi Bani dan mengabarkan, Bani belum siuman. Adik Irna itu masih di bawah pengawasan tim dokter untuk melihat perkembangan selanjutnya. Irna dan Adi menengok ke dalam ruang ICU lewat jendela kaca. Tampak oleh mereka adiknya terbaring di sebuah ranjang dengan peralatan medis di dekatnya. Begitulah Bani, hingga  dua minggu  setelah kecelakaan, sudah dua kali menjalani operasi. Bahkan kini tulang rusuknya yang patah, kata dokter, harus diganti dengan pin khusus dan untuk itu akan dioperasi lagi.
              Ya, dua minggu. Bagi Irna waktu terasa bergerak lambat. Untuk penunggu Bani di RS, ia bergiliran dengan saudara-saudaranya yang lain. Tapi, yang lebih sering adalah Irna. Hampir tiap hari Irna ada di RS. Apalagi kondisi Bani yang mengkhawatirkan. Adiknya itu dalam keadaan koma, sadar sebentar dan koma lagi. Saat sadar itu sebenarnya belum pulih benar. Dalam keadaaan seperti ini perawat di ICU bertanya dengan pelan dan hati-hati, ya, semacam terapi singkat menurut perawat itu.
                “Pak Bani, sudah agak baikan ya. Masih ingat nggak ini siapa?” tanya perawat  itu seraya tangannya  menyentuh pundak Irna sebentar.
                Irna melihat Bani menggangguk. Mulutnya menyebut nama Irna dengan pelan nyaris tanpa suara . Perasaan Irna tersentuh lagi, melihat Bani dengan kondisi begitu . Dalam hati Irna bercampur aduk antara senang, sedih, sekaligus  setengah kabut kekhawatiran. Dan benar  saja, sehari setelah itu, Bani kembali tak sadarkan diri. Kembali hati Irna berbalut kecemasan. Dalam keadaan semacam itu Irna jadi teringat pada Zahra dan Naufal. Irna telah berbohong pada mereka bahwa Bani sedang tugas ke luar kota. Ya, kebohongan tetap saja kebohongan.
               “Papa ke luar kota kok lama?” tanya si kecil, Naufal.
               ” Tante, Papa kok nggak pernah nelpon  Zahra. Ke mana sih tugasnya?” tambah Zahra.
                Dan Irna pun hanya terdiam, seperti kucing yang ketahuan mencuri ikan di dapur. Malu juga dia terhadap keponakan-keponakannya itu.
                 “Bani, oh Bani, adikku. Maafkan tantemu, Zahra dan Naufal,” kata Irna dalam hatinya.
                  Begitulah mungkin manusia terkadang sulit untuk mengubur prasangka. Sebuah prasangka yang berbalut kecemasan. Menerka-nerka tentang sesuatu yang belum tentu terjadi. Begitu pun Irna, diam-diam memeram kekhawatiran, bagaimana kalau Bani tak tertolong? Hatinya berusaha menepisnya. Tidak. Allah pasti akan menyelamatkan adiknya lewat perantaraan dokter dan paramedis di rumah sakit itu. Tapi. Tapi. Keadaan Bani belum menggembirakan pula, bahkan seperti semakin gawat. Kalau sudah sumpek dengan pikiran seperti itu, Irna kembali larut dalam doa dan berusaha melupakannya dengan istirahat.
                  Dan  benar saja kekhawatiran itu, ketika suatu malam dengan tergesa-gesa seorang perawat mendekati Irna dan memintanya ke ICU. Di ruangan itu sudah berdiri dokter jaga dekat tempat tidur Bani,  tangannya masih memegang alat bantu pemicu  detak jantung. Mata dokter itu seperti tak lepas mengamati monitor  pendeteksi detak jantung yang sinyalnya terlihat makin datar, hingga sama sekali nyaris lurus dan terdengar bunyi seperti ,”Tut… tut… tut.
                 Irna membaca isyarat itu.
               ”Bagaimana dokter. Dok, bagaimana adik saya?” tanyanya terbata-bata. Suaranya seperti tercekat.
                “Dia sudah pulang. Yang tabah ya Bu. Kami sudah berusaha keras menyelamatkan Pak Bani, tapi Allah berkehendak lain,” tutur  dokter.
                 Dada Irna kian bergejolak, tubuhnya bergetar, Ada sesuatu yang mengalir mungil di pipinya. Matanya tak lepas memandangi wajah Bani, untuk yang terakhir kali.

                                                          ***

                 Lima puluh hari setelah kepergian Bani, tanpa diduga ada sepucuk surat dari Pangadilan Agama (PA). Intinya mantan istri Bani mempersoalkan lagi dan mengharapkan Zahra dan Naufal diasuh oleh ibu kandungnya sepeninggal Bani sebagai ayah kandung mereka. Namun, seminggu setelah wafatnya Bani, Irna sempat berunding dengan adik-adiknya dan secara hati-hati  bertanya pada anak-anaknya almarhum kemungkinan mereka untuk diangkat menjadi anak oleh Irna. Ya, tentunya dengan bahasa yang dipahami anak-anak seusia mereka. Saudara-saudara Irna dan Zahra dan Naufal nampaknya setuju saja. Namun, kini muncul soal baru tentang surat gugatan mantan istri Bani itu.
                 Zahra memang masih ingat dengan ibu kandungnya. Sedangkan Naufal mungkin sama sekali belum ingat tentang peristiwa dua tahun lalu.  Sebelum memenuhi panggilan PA, Irna meski dengan berat hati mengabarkan tentang masalah itu pada Naufal dan kakaknya. Yang mengejutkan Irna, Zahra begitu pula Naufal tidak mau untuk ikut dengan ibu kandungnya. Apalagi kini mantan istri Bani itu sudah menikah lagi dan mempunyai satu anak dari suaminya sekarang. Bahkan Zahra dan Naufal mengatakan, ibunya itu adalah “orang asing” bagi mereka, dan berharap ikut dengan Irna dan Adi saja.
                 Meski di PA hakim tidak menanyakan atau melibatkan Zahra dan Naufal, sebab mereka masih di bawah umur, namun Irna sempat juga mengungkapkan keinginan anak-anak angkatnya itu sebagai fakta pendukung agar Zahra dan Naufal ada di bawah pengasuhannya. Sidang pun cukup alot. Mantan istri Bani memakai jasa pengacara, sedangkan Irna tidak. Irna sendiri yang terlibat dalam persidangan-persidangan itu didukung sejumlah saksi dari saudara-saudara dan juga suaminya, yakni Adi. Walau  hatinya sempat dirundung kecemasan akan kalah di persidangan, tapi akhirnya saat hakim memutuskan bahwa Zahra dan Naufal di bawah pengasuhan Irna sebagai orangtua angkat yang sekaligus tante dari kedua anak yatim itu,  hati Irna pun melonjak kegirangan. Bagi Irna keberhasilan persidangan itu adalah kelanjutan  kegigihan Bani agar anak-anaknya tidak jatuh ke pengasuhan mantan istrinya.  Melihat wajah Naufal  pun Zahra ada bayang-bayang Bani yang tak jua menghilang.***   

(Dimuat di Harian Radar Tasikmalaya, 22 Mei 2011)

Rabu, 09 Mei 2012

Antara yang Maya dan Tercetak




         Kini ada kebiasaan baru sejumlah masyarakat Indonesia, yakni suka membuat status di jejaring sosial Facebook (Fb) dan juga Twitter. Tentang kebiasaan ini seseorang sempat bertanya kenapa kebiasaan itu muncul,  apakah saluran komunikasi dengan orang-orang terdekat sudah tercekat dan tersumbat? Memang membikin status di Fb dan “berkicau” di Twitter seakan menjadi gaya hidup baru masyarakat di era posmodern ini. Apa pun bisa dituliskan di status, dinding Fb maupun mikroblog Twitter, mulai dari aktivitas terbaru,  informasi, bahkan puisi hingga sekadar narsis dan keluh-kesah dalam kehidupan ini.    Nampaknya mereka itu sedang “deman” dengan jejaring sosial, seamsal laman Fb dan Twitter.
         Tak kurang dari pernyataan dia, sempat pula  diungkapkan sejumlah kalangan,   tentang adanya pergeseran kebiasaan masyarakat kita dalam mengakses informasi termasuk untuk interaksi sosial lewat dunia maya (internet). Meski maya, namun bentuk media komunikasi dan informasi ini sudah menjadi ruang publik. Sebuah jagat dengan karekteristik ambigu antara yang nyata dan semu. Dalam konteks kebiasaan baru itu, Presiden Global Ethic Foundation Prof Hans Kung (82) mengungkapkan dalam salah satu bukunya, “Kita hidup di suatu masa, di mana banyak kekuasaan moral kehilangan kredibilitasnya, banyak lembaga terperangkap dalam krisis identitas yang parah, tidak sedikit nilai yang diselewengkan, suatu masa di mana orang bisa duduk berjam-jam berhadapan dengan realitas maya.”
           Ya, kebiasaan baru yang mementingkan realitas maya ketimbang saluran-saluran komunikasi lain yang dekat, yang lebih bernuansakan nilai-nilai pembelajaran intens, memerlukan etika dan pranata komunikasi tertentu, dan lebih mempribadi. Sepertinya, kita sedang larut dalam euforia (ingar-bingar atau kegembiraan yang berlebihan) banjir elektronika era posmodern kini, terutama dengan kemajuan di bidang teknologi komunikasi dan informasi. Belum lagi proses  penggunaan (akses) seperti kecepatan hasil pencarian, kemudahan, pun kecepatan publikasi  menjadi keunggulan tersendiri yang ditawarkan media maya. Akankah media teknologi berbasis internet ini menggerus saluran-saluran komunikasi yang ada? Bisakah suatu saat media-media massa konvensional (terutama cetak dan elektronik) menjadi punah?
           Bagaimanapun, tidak ada kata mati untuk media massa (pers) cetak (surat kabar/koran, majalah, tabloid, dan buletin kantor berita) termasuk media elektronik juga sumber pengetahuan yang lebih serius dan terkesan ilmiah yakni jurnal-jurnal dan buku-buku. Ketika televisi (TV) ditemukan lantas mulai berkembang di masyarakat, banyak ahli komunikasi Barat yang memrediksikan tak lama lagi media cetak akan mengalami kepunahan. Tapi, kenyataannya sampai kini media cetak tetap eksis, mampu bertahan, dan berkembang. Di kita pun manakala bermunculan TV swasta akhir 80-an, ada kekhawatiran pengelola dan prakstisi pers cetak seperti yang diramalkan pakar komunikasi Barat itu. Hingga diakui saat itu, bahwa media massa  cetak terdesak oleh TV.
           Survei Menneg Komunikasi dan Informasi tahun 2003 menunjukkan, bahwa jumlah penerbitan pers kita tinggal 450 penerbit dengan total tiras sekira 7 juta eksemplar. Dari jumlah itu surat kabar mencapai 4,2 juta eksemplar, majalah 1,4 juta, dan tabloid 1,1 juta eksemplar. Sebagai perbandingan pada era Orde Baru hingga awal Reformasi angka tiras penerbitan masih 14 juta eksemplar dengan jumlah surat kabar mencapai 6 juta buah. Data Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) pada 2008 menyatakan dari 429 anggota SPS yang terdaftar hanya sekira 30 persen yang dikategorikan sehat secara bisnis. Sebenarnya merosotnya tiras media cetak dari waktu ke waktu tidak hanya  terjadi di kita, tapi terjadi di belahan dunia lainnya termasuk di Inggris, seperti yang selalu dilaporkan World Association Newspaper (WAN).
            Fenomena penurunan tiras itu tidak serta merta bisa dijadikan parameter, bahwa pers cetak sudah mati suri dan  akan punah. Hidup dan matinya media tidak semata-semata ditentukan tiras, tapi lebih oleh faktor intern dan kebijakan politik. Hanya pers dulu yang menjadikan tiras sebagai nafas atau nyawa media. Pada era  ekonomi kini, iklanlah yang menjadi “nafas” sedangkan isi menjadi “jantung” media. Dengan tiras yang sedang saja, banyak kini media termasuk daerah dan lokal yang masih bertahan dan tetap berkembang. Memang, sejatinya kini media cetak lebih gesit mengembangkan kreativitas, inovasi, meningkatkan kinerja termasuk kekompakan sumber-sumber internal,  meraih pembaca baru, dan mengembangkan “suasana” atau terobosan interaktif dengan pembaca potensialnya di tengah situasi sekarang yang lebih kompetitif.
             Menanggapi terdesaknya pers cetak oleh media elektronik dan digital, beberapa waktu lalu  sejumlah surat kabar pun melakukan perubahan . Media-media terutama surat kabar praktis berubah baik dalam ukuran, kolom, dan kemasannya. Ada surat kabar yang mengadopsi tabloisasi dalam tampilannya dan menampilkan warna dalam kemasannya untuk membantu pembaca dalam visualisasi. Namun, meski berubah media-media itu tetap mempertahankan “isi” atau identitas dan jatidiri surat kabar. Juga “gila-gilaan” dalam merengkuh iklan sebagai nafas media.  Hingga sekarang media cetak pun masih berkembang, mengeksplorasi diri, bahkan berkolaborasi dengan  media internet. Contohnya, dengan membentuk media online bahkan ada media yang menampilkan interaksi dengan pembacanya lewat jejaring sosial yang kini moncer, yaitu Facebook.
               Dengan demikian dapatlah dikatakan, perkembangan “ganas” dalam teknologi hanya menyangkut perangkat keras (produk teknologi) . Kita bisa melihat bagaimana keping cakram (CD, VCD, DVD, dan juga MP3)  nyaris memunahkan kaset rekaman seluloid (pita), kamera digital menyingkirkan alat foto berfilm (seluloid),  disket termasuk (floppy disk) diganti flashdisk, dan telepon genggam yang “mengubur” radio panggil (pager). Sedangkan, dalam teknologi komunikasi dan informasi dengan perkembangannya baik yang tercetak, digital, elektronik, dan kini berbasis internet ada “software” berupa spirit (jiwa) dan nilai-nilai komunikasi yang pada dasarnya  mirip. Kesamaan kedua elemen itu, menjadi landasan dalam perkembangan media-media itu yang akan saling mengisi dan melengkapi.
           Seyogianya pandangan dan sikap yang cenderung  memosisikan keduanya  secara kontras ataupun paradoksal, walau secara alami tentu saja ada persaingan di antara media-media itu. Kita pun tak perlu apriori terhadap media baru berbasis internet sepanjang motif kita mencari sesuatu dan berinteraksi dengan sesama dalam bingkai nilai-nilai yang penting, bermanfaat, dan bermakna melalui ruang maya sekalipun. Bukankah dengan sikap dewasa seperti itu  kita bisa menjadikan media massa konvensial dan yang berbasis internet sekaligus sebagai sarana pembelajaran bermakna?  Di sinilah mungkin terdapat nilai pembelajaran bagi hidup dan kehidupan kita melalui  “ruang sekolah” atau “bangku kuliah” bentuk lain, yakni internet. Yang dibutuhkan untuk belajar sambil bermain ataupun bermain sambil belajar di jagat maya itu, antara lain sikap  kehati-hatian, sebab “murid” terkadang berperan ganda sebagai “guru” dan guru kerap merangkap sekaligus murid. Adakah kelas lain untuk belajar  “sebebas” di ruang maya? (Ari Hidayat)
(Dimuat di  Radar Tasikmalaya, 4 Desember 2010)

Rabu, 25 April 2012

Puisi-puisi Ari Hidayat


          


Diary
 : Anna
Membaca halaman ingatan tentangmu
serupa saja catatan kebersamaan:
senyummu menggoda senja, kerling matamu
nyanyian hatimu bagaikan keindahan cengkrama
bulan dan bintang di semesta malam
Esoknya saat ku terjaga dari lelap tidur, kau hadir
dengan secangkir doa, sepiring harapan di tangan
mendorongku melahap pencarian penghidupan
keseharian
Pada pagi miliki kita, juga tersuguhkan magnet
yang menarik wajahku mengecup-ngecup
bibir gelas berisi kopi bikinanmu dan tak bosan
menghirup aromanya. Aromanya
Kini kembali kubuka catatan harian ini dan kau
pun muncul masih bersama senyum memikat senja
hidangan dengan aroma paginya itu
sekaligus cerita diam-diam tentang keindahan malam
Meski aku tetap tergoda, tak, takkan lagi:
kubelalakkan mata karena pesonamu
kubentangkan kata-kata di bibir karena pesonamu
kususun larik-larik sajak dalam hatiku sebab mengagumimu
Tak akan lagi
Aku hanya ingin melukis setangkai  merah mawar hati
dalam daun beserta sekalian hijaunya
dalam dahan sekalian anak-anaknya
dalam rasa yang tak dapat terungkap lewat sejuta kata
Hanyalah keheningan warna yang sudah bersenyawa
dalam lukisan itu, mengisyaratkan bahasa yang ingin
selalu dan selalu bersama terlukis dalam kanvas kehidupan

2010 – 2012





      
                  Dikerjai Puisi Melukis Kembang 

           Dirimu, rahasia keindahan bulan disembunyikan
           sayap-sayap  mentari. Semesta pun jadi benderang
           Dirimu, semilir mawar, keindahan rupa warna
           menerobos hati juga mimpiku. Sajak pun menjadi
           nyanyian keindahan   
           Dirimu, penghias kebisuan ranjang, teman
           menawan dalam kesenyapan perjalanan dan keresahan
           pertemuan tertunda di ruang kosong itu. Lampu kamar pun
           rebah mengalah dalam keremangan
           Dirimu, serupa buku meski sudah sempat kubaca, tapi
           menarik mataku lewat selimut malam, hanyut dalam
           tarian kontemplasi. Aku pun nyungsep di bawahnya
           membaca ulang lekuk-lekuk pesona di lembaran-lembarannya.
           Di sana, kueja indah kata, kujelajahi gunung-gunung makna,
           kuselami mutiara rasa, dari balik kesahajaan
           hadirmu

                                                                                2010
                          



Jumat, 20 April 2012

Sosok Perempuan dalam Media Massa



       Berbagai penelitian tentang  perempuan dalam media massa nyaris semuanya menunjukkan wajah perempuan yang kurang menggembirakan. Perempuan sering digambarkan sebagai sosok yang penuh derita, noda dan terdiskriminasi.Media massa, khususnya televisi, menampilkan perempuan sebagai sosok yang lemah, pasif dan tidak berdaya. Padahal perempuan pun sama dengan laki-laki sebagai manusia utuh yang terdiri atas badan  dan jiwa serta bebas menentukan sikap dan menjadi dirinya sendiri. Sejumlah kalangan menilai, pemberitaan tentang wanita pun masih sedikit, sehingga terjadi ketimpangan informasi.
        Isu seputar perempuan seperti kesetaraannya dengan laki-laki, terutama dalam sektor publik, memang sudah menjadi kebijakan pemerintah. Tak kurang dari regulasi tentang perempuan dan pembentukan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan yang mengurusi masalah-masalah kaum perempuan . Tapi, kondisi aktual masyarakat saat ini kurang mendukung upaya penyetaraan itu.  Masyarakat kita masih menganut ideologi dan nilai-nilai patriarki, yang menganggap posisi laki-laki lebih dominan ketimbang perempuan. Bahkan, perempuan masih dianggap sebagian besar orang sebagai subordinat dari sebuah sistem.
        Lewat keadaan seperti ini, tentu saja yang menjadi korban adalah perempuan. Namun, media massa kita belum mengungkapkan bias gender itu. Menurut anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID), Jawa Barat,  DR Atie Rachmiatie, MSi, berdasarkan penelitian dan pengamatan acara-acara di stasiun televisi (TV), maka terjadi bias informasi. Akibatnya, 61 persen acara menggambarkan fungsi dan profesi perempuan sebagai orang yang tidak bekerja. Sisanya, 39 persen menggambarkan perempuan karier dengan pekerjaan yang pantas untuk perempuan seperti sekretaris (Pikiran Rakyat, 25 Agustus 2007).
           Baik media massa cetak (surat kabar, tabloid dan majalah) dan elektronik (TV dan film) masih menggambarkan sosok perempuan seperti yang diungkapkan DR Thamrin Amal Tomagola (1990), yakni berkisar seputar 5-P: pigura, pilar, peraduan, pinggan, dan pergaulan. Pigura menyangkut kecantikan dan pemikat secara biologis, pilar sebagai pengelola rumah tangga, peraduan yakni yang berhubungan dengan seks, pinggan yaitu berkaitan dengan dapur dan pergaulan untuk urusan publik sebagai pendamping lingkungan kerja. Pemberitaan tentang wanita pun seringkali menyangkut sektor domestik, yang sudah menjadi kodrat perempuan, misalnya mengenai kecantikan, mengatur waktu antara karier dan keluarga dsb.
             Pencitraan perempuan seperti itu dapat dilihat saat media massa memproyeksikan perempuan. Tidak sedikit dalam media iklan, halaman depan tabloid, dan majalah hiburan yang menampilkan wajah dan bentuk tubuh perempuan sebagai daya tarik. Begitu pula dengan sinetron-sinetron dan film masih juga menggambarkan perempuan sebagai makhluk yang lemah, tergantung pada pria, yang hanya di rumah dan peran utamanya hanyalah menyenangkan kaum pria. Selain itu, banyak pula perempuan yang dianggap sebagai simbol seks. Sosok perempuan dalam media massa seperti itu tentu saja menunjukkan stereotip yang merugikan mereka.
             Dalam TV, gambaran perempuan tanpa pekerjaan, sebanyak 65 persen digambarkan sebagai pigura (pajangan atau dekorasi),  rekreasi 34 persen dan keluarga 1 persen. Seandainya sinetron menampilkan image (citra) perempuan yang positif, maka akan sangat berpengaruh pada pemikiran kaum wanita baik dalam peran publik maupun domestiknya. Lantas kenapa media massa masih menggambarkan sosok perempuan seperti di atas? Apakah yang ditampilkan media massa (cetak dan elektronik) sebagai cerminan realitas perempuan dalam masyarakat?
            Selain karena kuatnya budaya patriarki, juga praktisi media, baik pemilik, sutradara, penulis skenario, produser, maupun jurnalis (wartawan) masih didominasi oleh kaum laki-laki. Kenyataan ini berdampak kepada perspektif yang dipakai media massa. Sebagai contoh, tahun 2007 perempuan jurnalis di Indonesia hanya 8,6 persen dan sisanya 91,4 persen adalah laki-laki.

Masyarakat tontonan
             Di dalam masyarakat tontonan (society of spectacle), perempuan berfungsi dominan sebagai pembentuk citra (image) dan tanda (sign) berbagai komoditas (misalnya salesgirl, covergirl dan modelgirl). Menurut Guy Debord, seperti dikutip Yasraf Amir Piliang (1998),  masyarakat tontonan adalah masyarakat yang dalam dirinya setiap sisi kehidupan menjadi komoditas. Setiap komoditas itu menjadi “tontonan”. Dalam masyarakat tontotan, tubuh wanita sebagai objek tontonan untuk menjual komoditas - atau tubuh itu sendiri sebagai suatu komoditas tontonan – mempunyai peran yang sangat sentral.
           Menjadikan tubuh sebagai tontonan bagi sebagian perempuan adalah jembatan atau jalan pintas untuk masuk ke dunia populer, meraih popularitas, mengejar gaya hidup, dan buat mencapai kepuasan material. Dalam kondisi ini, perempuan tanpa menyadari sesungguhnya mereka telah dikonstruksi secara sosial untuk berada di dunia marjinal yakni dunia objek, dunia citra, dan dunia komoditas. Karena pencitraan perempuan dalam masyarakat tontonan  seperti itu, kerap media massa khususnya TV, dituduh hanya menampilkan perempuan sebagai pemikat biologis semata. Inilah yang acapkali dilontarkan kaum feminis sebagai kritikan kepada media massa.
          Bagaimanapun, media massa memiliki manfaat yang cukup penting dalam masyarakat. Tokoh emansipasi kita, RA Kartini yang hari kelahirannya 21 April diperingati setiap tahun sebagai Hari Kartini  pun,  mendobrak tradisi yang tidak sesuai dengan harkat dan martabat kaum wanita lewat bacaan-bacaannya yakni majalah wanita ketika itu. Karena itu, gambaran positif tentang perempuan dalam media massa akan memperbaiki citra mereka. Menyangkut, sedikitnya media menampilkan sosok perempuan, menurut Akhmad Zaini Abar, lebih disebabkan faktor struktural, yakni realitas sosial bahwa laki-laki lebih banyak menciptakan peristiwa yang layak menjadi berita ketimbang perempuan.
          Media massa berfungsi menyampaikan fakta. Karena itu, gambaran perempuan dalam media massa merupakan cermin realitas yang ada dalam masyarakatnya. Kata orang, mengharapkan setara dalam segala sesuatu adalah sebuah utopia. Meskipun, kaum wanita bisa saja berdalih itu adalah cita-cita dan perjuangan. Ketimbang mempersoalkan terus-menerus mengenai. kesetaraan gender, feminis – maskulin dsb., alangkah lebih baiknya jika perempuan lebih menunjukkan prestasi, karya, kecakapan dan peran dalam masyarakat yang tidak kalah dengan kaum laki-laki. Sehingga, gambaran ideal tentang perempuan pun akan tampil dalam media massa (Ari Hidayat)
(Dimuat di SKH  Kabar Priangan,  16 September 2008)

Kamis, 19 April 2012

Menjaga Tulisan Jangan Sampai Hilang


     Seorang kawan yang hobi menulis mengeluhkan saat USB (flashdisk)-nya kena virus hingga sejumlah data tulisan di dalamnya hilang. Begitu pula saat laptopnya diinstall tulisan-tulisan di harddisk komputer jinjingnya itu jadi lenyap pula. Saya hanya menyarankan perlunya back-up data termasuk dengan hardcopy (print-out)-nya. Tapi dia masih tetap khawatir toh bagaimana bila back-up-an datanya juga kena virus lagi atau print-annya itu hilang? Hingga ia memutuskan akan menyimpan saja tulisan-tulisan baik yang sudah diedit maupun belum di blog miliknya.
     Dari cerita seorang kawan itu,  saya jadi ikut memikirkannya sejenak. Meski saya belum pernah mengalami persoalan separah dia. Sebab saya selalu mem-back-up data tulisan-tulisan yang saya buat lengkap dengan hasil print-nya. Paling-paling satu file di USB yang rusak disebabkan saya keliru menulis langsung di flashdisk hingga setelah tulisan itu selesai dan disave sulit dibuka lagi. Atau saat PC saya mesti diinstall saya sudah punya copy data di hardisk komputer saya.
    Saya juga teringat seorang cerpenis yang sempat tinggal di Australia dan naskah kumpulan cerpennya hilang. Meski akhirnya bisa disusun kembali dan antologi cerpennya diterbitkan. Saya punya seorang dosen yang suka menulis di media yang kesulitan ketika akan mengumpulkan tulisan-tulisannya yang pernah di dimuat di media-media massa ternyata file-filenya sdh tidak ada. Begitu pula dengan sejawaran yang rajin menulis, Prof Dr Taufik Abdullah mengalami kesukaran serupa saat tulisan-tulisannnya hendak dikumpulkan untuk dibukukan.
     Hingga, bagi seorang penulis memang  "keamanan" tulisan dan naskahnya  yang berujung pada dokumentasi karya-karyanya, baik yang sudah diterbitkan atau belum, maupun yang sudah diposting atau masih berupa draft amatlah penting. Dan saya pun tak berpretensi cara saya dalam "menjaga" tulisan-tulisan saya itu diikuti ataupun mengajak keputusan teman saya untuk menyimpan tulisan-tulisannya di blog. Saya hanya  mengulas sedikit yang berawal  darisedikit pengalaman teman saya itu tentang file/naskah tulisan (Ari Hidayat)

Rabu, 18 April 2012

Perempuan dan Politik







Perempuan yang Terjun ke Politik

Menebar Kemampuan Menuai Keberdayaan

         Perempuan pada dasarnya sama dengan laki-laki, terdiri atas badan dan jiwa. Ia pun bebas menentukan sikap dan menjadi dirinya sendiri. Secara normatif, hak-hak wanita dalam bidang hukum dan pemerintahan sudah lama diakui. Baik dalam Konvensi Hak-hak Asasi Manusia yang tercantum dalam Piagam PBB tahun 1948, maupun dalam UUD 1945. Di alam reformasi kini, semakin banyak perempuan yang tak ragu-ragu terjun ke dunia politik yang terkesan milik lelaki itu. Diantaranya,  ada yang mengincar kursi legislatif dan juga eksekutif dan berhasil mewujudkan harapannya. Bahkan kursi presiden RI pun pernah diduduki oleh perempuan bernama Megawati Soekarnoputri.
            Perangkat perundang-undangan pun sudah mengakomodasinya yakni dengan adanya kuota 30 persen  perempuan di parlemen dan tidak adanya diskriminasi bagi wanita untuk berkiprah dalam kancah politik. Kondisi inilah  sebagai salah satu jalan yang mengantarkan sejumlah perempuan menduduki jabatan-jabatn penting baik di pusat maupun daerah. Sehingga, kini adanya wanita yang menjadi lurah, camat, dan bupati menjadi pemandangan yang biasa. Contohnya,  bupati di Majalengka, Jawa Barat adalah seorang wanita yaitu, Ny Tutty Hayati Anwar.
           Kuota 30 persen keterwakilan perempuan di lembaga legislatif, harus dianggap sebagai peluang emas bagi perempuan yang sebelumnya termarjinalkan baik karena faktor struktural maupun  kuatnya budaya patriarkhi (lelaki lebih dominan ketimbang perempuan) dalam masyarakat kita. Meski begitu, perempuan janganlah hanya menjadi pelengkap untuk memenuhi kuota (kuantitas), tapi perlu pula menunjukkan kemampuannya sebagai legislator bila ia terpilih nanti. Ini penting agar perempuan dapat memberikan warna dan atmosfer baru di gedung dewan.
           Tentunya sebagai wanita sah-sah saja, bila ia pun meperjuangkan kepentingan kaumnnya. Isu-isu aktual dan strategis seperti masih tingginya angka kematian ibu dan maraknya eksploitasi wanita termasuk kekerasan dalam rumah tangga layak diperhatikan.  Dalam konteks kredibilitas di Indonesia secara kuantitas perempuan lebih banyak ketimbang laki-laki. Tapi, secara kualitas perempuan perlu meningkatkan diri. Meminjan istilah pengamat politik Eef Saefullah Fattah yang dikutip Iradatul Aini bahwa, banyak  pemilih perempuan, namun sedikit yang terpilih. Kredibilitas (dapat dipercaya) menjadi penting untuk keberlangsungan interaksi langsung maupun tidak, partai yng mengusungnya maupun  dengan rakyat yang memilihnya.
           Tentunya, kita semua berharap  wanita anggota legislatif baik pusat maupun daerah dapat menunjukkan kemampuan, kecerdasan, kecakapan, kemandirian dn sederet  kriteria kompeten lain yang setara dengan lelaki anggota dewan. Ia diharapkan dapat terlibat aktif dalam setiap pengambilan keputusan. Sehingga legislatif bisa melahirkan kebijakan-kebijakan yang prorakyat. Apalagi dalam kondisi krisis saat ini dan karut-marutnya kehidupan ekonomi dan politik bangsa (Ari Hidayat)


Artis, Kredibilitas, dan Politik

        Pemilihan Umum (Pemilu) legislatif 2009, diramaikan oleh maraknya artis yang mencalonkan diri menjadi anggota parlemen. Ada yang mencalon untuk memperjuangkan idealismenya dan ada yang dipinang partai politik. Seakan menyusul seniornya seperti Marissa Haque yang lebih dulu terjun ke politik, artis Indonesia beramai-ramai banting setir ke kancah politik yang biasa didominasi lelaki itu. Artis sah-sah saja berpolitik dan merupakan aktivitas yang tidak dilarang. Beragam alasan dikemukannya menyangkut partisipasi  politiknya yang kebanyakan terkesan instan (langsung jadi).
         Sejumlah artis itu seperti dilansir sebuah majalah wanita antara lain Venna Melinda (Partai Demokrat), Raslina Rasyidin (Partai Amanat Nasional) dan Tessa Kaunang (Partai Damai Sejahtera), dan Okky Asokawati (PPP).  Selain mereka, muncul pula nama-nama lain seperti Nurul Arifin, Rieke Dyah Pitaloka, dan Wulan Guritno.
Fenomena artis yang mendadak berpolitik menandakan politik di kita masih mengandalkan popularitas yang bisa menggeser sederet prasyarat ideal seperti rekam jejak berpolitik seseorang, kemampuan, dan sebagainya. Indonesia masih mengedepankan politik citra di mana figur menjadi amat penting.
              Kalau sebelumnnya artis hanyalah sebagai vote getter (pengumpul suara) saat pemilihan (hanya sebagai bintang tamu) kini ia benar-benar menjadi pemain utama politik. Permainan politik memang sebelumnya didominasi lelaki yang memarjinalkan kesempatan dan peran wanita.. Dunia politik yang terkesan maskulin itu, penuh intrik, dan tarik-menarik kepentingan  kini banyak dilirik artis. Sekadar latahkah (ikut-ikutan), sebagai pelarian atau memang panggilan jiwa artis itu sendiri? Tak mudah menjawab semua pertanyaan ini. Ketimbang mereka-reka jawaban dari pertanyaan itu, alangkah lebih baik bila kita menunggu dan memberi kesempatan kepadanya untuk melihat kiprah politik artis kita.
             Yang perlu diperhatikan oleh artis kita sebagai wanita pemain politik adalah membuktikan diri kepada rakyat bahwa mereka layak duduk di kursi parlemen. Kita pun berharap suara rakyat yang diberikan kepadanya sebagai amanah yang harus dijadikan landasan dalam setiap gerak-gerik politik mereka, sehingga parlemen dapat menghasilkan kebijakan yang matang dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat banyak. Karakteristik wanita yang lebih menonjolkan perasaan dan hati nurani ini diharapkan mampu menyeimbangkan keputusan-keputusan yang hanya terkesan berupa kalkulasi untung-rugi dan mengenyampingkan dimensi-dimensi lain seperti rasa kemanusiaan. Bagaimanapun setiap kebijakan baik eksekutif, legislatif, dan yudikatif jangan sampai mengalami pendangkalan kemanusiaan.
              Semoga artis yang mencalon sebagai legislator itu, tidak terjebak dalam sikap pragmatis yang menonjolkan kepentingan jangka pendek dan sesaat. Dan menjadikan pengalaman baru ini, sebagai investasi pendidikan politik dan penanaman sikap sportif..Terpilih maupun tidak terpilih ia harus siap dengan segala risiko dan konsekuensinya. Mulai sekarang ia harus membangun kredibilitas sehingga terbentuk kepercayaan dari rakyat kepadanya. Bangunan yang bermahkotakan kejujuran dan bersinggasanakan hati nurani untuk menampung suara-suara rakyat. Dengan demikian, kehadiran artis itu di dalamnya (gedung dewan), bukan hanya sebagai pigura penghias gedung wakil rakyat. Atau tak lagi hanya sebagai penahan rasa kantuk ketika rapat-rapat parlemen. berlangsung (Ari Hidayat)
(Dimuat di majalah DKI Jakarta)